Home » Education » Corporate Social Responsibility dalam Pembangunan Industri Pariwisata

Corporate Social Responsibility dalam Pembangunan Industri Pariwisata

Sustainability atau yang dewasa ini dalam Industri pariwisata kerap dikaitkan dengan pariwisata berkelanjutan/sustainable tourism merupakan salah satu bentuk terobosan yang dicetuskan untuk menemukan sebuah alternatif aktifitas pariwisata sehingga dapat memaksimalkan dampak postif dan mengurangi dampak negatif yang dihasilkan. Berbagai tulisan dan penelitian telah banyak dipublikasikan oleh para ahli dalam mengkaji potensi-potensi dari aktifitas sustainable tourism untuk menggerakan roda perekonomian kreatif yang diharapkan akan membawa dampak yang positif di bidang ekonomi, sosial dan budaya.

Seiring perkembangan zaman yang juga ditandai dengan munculnya pemahaman dan kedepulian perusahaan-perusahaan jasa maupun manufaktur dalam keikutsertaannya dalam pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Development) banyak aktifitas dan program yang telah dilakukan. CSR (Corporate Social Responsibilty) merupakan salah satu program yang muali dilirik oleh perusahaan sebagai tanggung jawab sosial dan kepedulian lingkungan terhadap kepentingan stakeholder dimana perusahaan tersebut di bangun. Menurut World Business Council for Sustanable Development, CSR bukan sekedar discretionary, tetapi suatu komitmen yang merupakan kebutuhan bagi perusahaan yang baik sebagai perbaikan kualitas hidup. Secara filosofis, jika perusahaan berusaha untuk berguna bagi umat manusia maka dalam jangka panjang tentunya akan tetap eksis. Sedangkan menurut http://www.usaha-kecil.com/pengertian _csr.html) CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap sosial atau lingkungan sekitar di mana perusahaan tersbut berada. CSR merupakan fenomena strategi yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholdernya. CSR timbul sejak era di mana kesadaran akan sustainability perusahaan jangka panjang adalah lebih penting dari sekedar profitability.

Sedangkan CSR (Corporate Social Responsibilty) (lingkar studi CSR) dalam Rachman (2011:15) memaparkan yakni “upaya sungguh-sungguh dari entitas bisnis untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak postif operasinya terhadap seluruh pemangku kepentingan dalam ranah ekonomi, sosial, dan lingkungan agar mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan”. Secara implicit, definisi tersebut berarti mengajak perusahaan untuk bersungguh-sungguh dalam upaua memberikan manfaat atas kehadiran bagi umat manusia saat ini. Meminimalkan dampak negatif adalah bagian usaha memberikan manfaat di masa yang akan datang. Menurut Philip Kotler dalam Rachman (2011:15) mengatakan bahwa CSR dikatakan sebagai discretionary yang dalam arti luas berarti sesuatu yang perlu dilakukan. Seandainya tidak dilakukan, akan berakibat merugikan diri sendiri. Namun, hal ini bukanlah suatu peraturan yang di haruskan. Pada tahun 2007, pemerintah telah mengeluarkan Undang-undang mengenai Perseroan yang di singgung dalam UU No 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pasal 74 UU tersebut berbunyi:

  • Perseorangan yang menjalankan kegiatan usahanya di budang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
  • Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseorangan yang dianggarkan dan perhitungkan sebagai biaya perseorangan yang pelaksanaannya dilakukan dengan meperhatikan kepatutan dan kewajinan.
  • Perseorangan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
  • Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Program jangka panjang manajemen suatu perusahaan dalam mengaplikasikan CSR sebagai salah satu implikasi sustainable development, tidak akan bisa dilepaskan kaitannya dari dampak-dampak yang kemungkinan akan timbul. Implikasi CSR sebagai perusahaan yang peduli terhadap isu-isu pembangunan berkelanjutan yang mencakup tiga hal kebijakan yaitu pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan yang digambarkan oleh John Elkington dalam bagan triple bottom line sebagai pertemuan tiga pilar pembanguan yaitu “people, planet, dan profit”.

Namun, mengutik pendapat Prastowo (20:2011) yang berpendapat bahwa selama ini CSR dipahami secara salah kaprah. Salah kaprah tersebut, lebih parah lagi, menimpa perusahaan, masyarakat atau bahkan pemerintah itu sendiri. Salah satu contoh kesalahkaprahan dalam memahami CSR yakni CSR hanya dianggap sebagai kegiatan karitas (charity) atau amal. Tanggung jawab sosial memang dapat berwujud kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. Namun demikian, kegiatan sosial tidak bisa dipahami dalam arti sempit dengan hanya memberikan sesuatu kepada orang lain (charity).

Bentuk kegiatan sosial seperti pembagian sembako, sumbangan yang berupa uang atau barang ke suatu suatu daerah tidak bisa disalahkan dalam mengaplikasikan CSR itu sendiri, namun jika kegiatan CSR yang dilakukan oleh suatu perusahaan hanya sebagatas kegiatan sosial (charity) dan dilakukan secara terus menerus sehingga akan berdampak pada timbulnya ketergantungan dari penerima sumbangan tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

Prastowo, Joko. 2011. Corporate Social Responsibility. Yogyakarta:Samudra Biru

Rachman M. Nurdizal. 2011. Panduan Lengkap Perencanaan CSR. Jakarta. Penebar Swadaya

Strauss, A. dan J. Corbin. 2003. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

http://www.cectusakti.org/news.php?Ln=id&Mn=4&A=1&Kd=38)

http://www.usaha-kecil.com/pengertian _csr.html)


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *