Home » Education » Inovasi Organisasi Kepariwisataan

Inovasi Organisasi Kepariwisataan

Pendahuluan

Organisasi kepariwisataan adalah suatu badan yang langsung bertanggung jawab terhadap perumusan dan pelaksana kebijakan kepariwisataan dalam ruang lingkup nasional maupun internasional, yang secara langsung melakukan pengawasan dan memberi arahan dalam pengembangan kepariwisataan

Dalam dunia pariwisata ada tiga faktor yang menentukan berhasilnya pengembangan pariwisata sebagai suatu industri. Ketiga faktor tersebut adalah :

  1. Tersedianya objek dan aktrasi wisata, yaitu segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang untuk mengunjungi suatu daerah tujuan wisata.
  2. Adanya accessibility, yaitu Prasarana dan sarana perhubungan dengan segala fasilitas, sehingga memungkinkan para wisatawan mengunjungi suatu daerah tujuan.
  3. Tersedianya amenities, yaitu sarana kepariwisataan yang dapat memberikan pelayanan pada wisatawan selama dalam perjalanan wisata ayang dilakukan.

Ketiga faktor ini merupakan syarat yang harus  ada  bila akan menjadikan sutu pariwisata sebagai industri. Namun agar segala sesuatunya dapat berjalan dengan lancar, sesuai dengan harapan atau tujuan maka dalam pengembangan pariwisata di perlukan suatu badan atau organisasi yang bertanggung jawab untuk mengelolanya.

Pada dasarnya organisasi Kepariwisataan adalah suatu badan yang langsung bertanggung jawab terhadap perumusan dan pelakasanaan kebijaksanaan kepariwisataan. Oleh karena itu sesungguhnya organisasi kepariwisataan merupakan alat pengawasan juga memberi arah dalam pengembangan kepariwisataan.

Pada umumnya ada 2 bentuk organisasi kepariwisataan, yaitu :

  1. Government Tourist Office adalah Organisasi kepariwisataan yang dibentuk oleh pemerintah, sebgai suatu badan yang diberi tanggung jawab mengenai pengembangan dan pembinaan keppariwisataan pada umumnya, baik pada tingkat nasional, regional, maupun lokal.  Seperti halnya di Indonesia contohnya yaitu : secara nasional kepariwisataan berada dibawah Direktorat Jenderal Pariwisata . Di tingkat Propinsi berada di bawah Dinas Pariwisata Daerah (DIPARDA) atau Kantor Wilayah Pariwisata dan Dinas Pariwisata Daerah (DIPARDA Tingkat II).
  2. Private Tourist Office adalah organisasi kepariwisataan yang merupakan aosiasi-asosiasi macam-macam kelompok perusahaan yang merupakan partner (rekanan) bagi Government Tourist Office. Di Indonesia contohnya : Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI), Assoiation of Indonesia Travel Agent (ASITA), Indonesian National Assotiation of Civil Aviation (INACA) ,atau Indonesian National Shiiping Assoiation (INSA) , dan lain – lain

Hampir kebanyakan Negara didunia mempunyai suatu Organisasi Kepariwisataan Nasional , namum status wewenang dan tangung jawab berbeda-beda tergantung dari politik, yang dianut dan corak perekonomian Negara yang bersangkutan. Tercatat 101 anggota WTO (World Tourism Organization) yang ada ternyata hanya 4 organisasi  kepariwisataan nasional yang mempunyai status Non Govermental  (Austria, Republik Federasi Jerman, Hongkong, dan Norwegia) sedangkan selebihnya bersifat Governmental. Namun ada pula organisasi kepariwisataan yang statusnya Semi Governmental (yang termaksud dalam kelompok ini adalah Singapore, Swiss, Muangthai, Denmark, Kanada, Puerto Rico, Swedia, Kolombia, Cameron, Ghana, Uganda dan Negara-Negara Amerika Selatan. Namun ada beberapa Negara yang menempatkan kegiatan kepariwisataan dalam suatu kementrian tersendiri. Yaitu Ministry Of Tourism diantaranya adalah : Mesir, Istrael ,Afrika Selatan, Pakistan, Libanon, dan Jibraltal.

Organisasi Pariwisata Internasional

WTO (World Tourism Organization)

Satu – satunya organisasi yang memiliki suara – suara pemerintah untuk kepariwisataan adalah WTO, yang berpusat di Madrid, dibentuk pada tahun 1975 dari International Union Of Official Travel Organizations (IUOTO).

WTO adalah badan pariwisata yang resmi dari United Nattons yang tujuannya adalah untuk memepromosikan dan mengembangkan pariwisata serta memberi perhatian kepada negara – nagara berkembang. WTO mengumpulkan informasi dan menerbitkan publikasi – publikasi seperti majalah kecendrungan pariwisata dunia sekarang, pendekatan – pendekatan pemasaran dan perlindungan bagi sumber alam dan kebudayaan.

IATA (International Air Transport Association)

IATA adalah organisasi perusahaan penerbangan terjadwal sedunia. Anggota-anggota IATA membawahi kebanyakan muatan lalu lintas udara dunia terjadwal di bawah bendera hampir semua bangsa.

Tujuan IATA :

  1. Untuk mengadakan transsport udara yang aman, teratur, dan ekonomis untuk keperluan masyarakat dunia.
  2. Untuk membantu niaga penerbangan udara dan mengetahui masalah-masalah yang dihadapi.
  3. Menyediakan sarana untuk bekerjasama antara perusahaaan – perusahaan transport udara.
  4. Bekerjasama dengan International Civil Aviation Organization (ICAO) dan organisasi internasional lainnya.

Sejarah dan Organisasi

IATA didirikan tahun 1945 untuk memecahkan masalah yang terjadi karena perluasan yang cepat dalam pelayanan udara sipil pada perang dunia II. Sebagai suatu organisasi, IATA adalah suakrela, non eksklusif, dan non politik dan demokratos. Keanggotaannya terbuka bagi setiap perusahaan yang beroperasi dan sudah diijinkan menyediakan pelayanan udara terjadwal oleh anggota pemerintah ICAO sehingga ada dua katagori keanggotaan. Anggota aktif yang mengoperasikan rute Internasional, dan anggota asosiasi yang hanya melayani penerbangan domestik.

IHA (International Hotel Association)

IHA mempunyai kantor pusat di Paris, Prancis, yang bertujuan untuk mempersatukan berbagai perusahaan perhotelan dan restoran dari eluruh dunia, dan berusaha untuk memcahkan masalah – masalah kepariwisataan Internasional dan ikut memabntu memecahkan masalah – masalah yang timbul antara industri agen perjalanan dan perhotelan.

WATA (World Association Of Travel Agents)

WATA berkantor pusat di Jenewa, Swiss dan memiliki status hukum menurut Undang – Undang negara Swiss. Tugas utama WATA adalah untuk memajukan dan menjamin kepentingan para anggotanya dari segi – segi ekonomisnya dengan jalan mengatur secara nasional perjalanan wisatawan ke seluruh dunia. WATA memusatkan dan menyiapkan dokumen yang luasa bagi anggota – anggotanya, dokumen yang meliputi berbagai masalah dan publikasi kepariwisataan di seluruh dunia.

IASET (International Association of Scientific Experts in Tourism)

Organisasi ini berkedudukan di Berne, Swiss. Keputusan untuk mendirikan organisasi Internasional yang hendak mengumpulkan orang – orang yang berkecimpung dalam ilmu kepariwisataan telah diambil pada tahun 1946 oleh suatu grup ahli dalam bidang ini, yang mengadakan pertemuan mereka di Lungano atas inisiatif sekelompok cendekiawan Swiss.

Tujuan utama IASET adalah untuk menndorong pekerjaan – pekerjaan dari anggotanya, memajukan kegiatan – kegiatan lembaga – lembaga kepariwisataan atas dasar keilmiahan dan menumbuhkan hubungan yang baik dan erat untuk kerajasama dengan pusat – pusat riset khusu lainnya. Untuk mencapai tugas ini IASET sejak tahun 1951 menyelenggarakan kongres tahunan yang ditujukan khusus untuk mendiskusikan masalah – masalah besar yang bersifat ilmiah yang timbul dalam pertumbuhan pariwisata modern ini.

PATA (Pacific Asia Travel Association)

PATA berkedudukan di San Francisco, Californiaa, AS. Organisasi ini didirikan tahun 1952 di kota Honolulu, Hawai yang bertujuan untuk mempromosikan daerah-daerah di kawasan Asia Pasifik. Keanggotaan PATA terdiri dari wakil – wakil pemerintah dan perusahaan – perusahaan angkutan Internasional atau regional, agen-agen perjalanan dan industri prhotelan dan organisasi dalam dunia kepariwisataan. Indonesia menjadi anggota PATA pada tahun 1957, sejak itu Indonesia sudah dua kali menjadi tuan rumah kofrensi tahunan PATA.

Selain tujuannya untuk mengembangkan, memajukan, dan memberikan fasilitas-fasilitas kepariwisataan kepariwisataan di seluruh wilayah Asia Pasifik, PATA juga aktif dalam mengembangkan penelitian dan peninjauan kepariwisataan untuk wilayah ini.

South East Asia Promotion Centre for Trade Investment and Tourism        (SEA center)

Organisasi ini berkantor di Tokyo, Jepang. Tujuan organisasi ini adalah untuk membantu pembangunan ekonomi Asia Tenggara dengan jalan memajukan usaha – usaha ekspor dari daerah tersebut, mendorong penanaman modal di daerah itu, dan meningkatkan arus wisatawan ke dan melalui Asia Tenggara.

Manfaat daripada keanggotaan dalam organisasi ii terletak di bidang – bidang promosi dan pemasaran, riset, pendidikan dan latihan penulisan karya – karya ilmiah, penyelenggaraan berbagai seminart dan simposium dan tukar menukar data dan informasi.

Organisasi Pariwisata Nasional

ASITA

Organisasi yang menjadi wadah bagi pengusaha perusahaan perjalanan Indonesia, dalam bahasa Indonesia bernama Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia. Organisasi ini didirikan di Jakarta tahun 1971 dan memiliki beberapa tujuan yaitu:

  1. Berusaha memajukan dan melindungi kepentingan industri kepariwisataan nasional dan kepentingan para anggota.
  2. Meningkatkan citra PARIWISATA Indonesia dengan memberikan kepuasan, rasa aman,adanya kepastian perlindungan dan jaminan kepentingan tanpa mengorbankan kepentingan sesama anggota.
  3. Menuskseskan program pembangunan nasional melalui sektor kepariwisataan sesuai dengan garis – garis besar haluan negara dan rencana pembangunan nasional.

PUTRI (Perhimpunan Usaha Taman rekreasi Indonesia)

Perhimpunan Objek wisata Indonesiaaa atau lebih sering dikenal dengan PUTRI didirkan tanggal 10 November 1977. Adapun maksud didrikan PUTRI ini adalah sebagai wadah perjuangan kepentingan bersama dan mengabdi profesi dalam usaha mengelola dan penegmbangan budaya serta lingkungan alam dan kesejahteraan masyarakat.

Ada beberapa tujuan organisasi PUTRI yaitu:

  1. Membina dan mengembangkan objek wisata dalam rangka mengembangkan pariwisata nusantara dan mancanegara.
  2. Menanamkan dan memupuk rasa cinta tanah air melalui penyaajian objek wisata dalam usaha ikut berperan membentuk manusia Indonesia seutuhnya.
  3. Membina dan meningkatkan kemampuan mengelola objek – objek wisata dalam rangka meningkatkan pelayanan.

HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia)

HPI adalah organisasi profesional non politik dan mandiri yang merupakan waah persatuan dan kesatuan pribadi yang profesinya adalah pramuwisata.

HPI bertugas secara aktif menggalakkan dan melaksanakan pembangunan pariwisata secara teratur, tertib dan berkesinambungan,meumpuk dan menigkatkan semangat serta kesadaran nasional sebagai warga negara RI serta memiliki tanggungjawab asosiasi terhadap lingkungan dan menigkatkan kerjasama.

PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indoensia)

Kegiatan organisasi ini adalah membantu para anggota dengan cara memberikan perlindungan, masukan, bimbingan dan konsultasi serta pendidikan untuk meningkatkan mutu hotel/akomodasi, restoran, dan jasa boga,s esama anggota mengkoordinasikan dan meningkatkan kerjasama atar anggota dan organisasi lain di bidang kepariwisataan baik di dalam maupun di luar negeri, melakukan kegiatan penelitian perencanaan dan penegmbangan, melakukan promosi untuk meningkatkan kepariwisataan dalam dan luar negeri.

Responsible Tourism

Konsep responsible tourism yang dapat diterjemahkan secara bebas sebagai pariwisata yang bertanggung jawab, adalah konsep yang baru muncul dalam beberapa tahun terakhir. Konsep ini merupakan hasil evolusi dan pengembangan dari konsep-konsep terdahulu, seperti sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan) dan ecotourism (ekowisata).

Untuk memahami apa yang dimaksud dengan pariwisata yang bertanggung jawab, terlebih dahulu kita akan menyinggung setidaknya dua konsep yang menjadi akar dari konsep ini, yaitu pariwisata berkelanjutan dan ekowisata. Pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism adalah sebuah konsep turunan dari konsep pembangunan berkelanjutan yang ada pada laporan World Commission on Environment and Development, berjudul Our Common Future (atau lebih dikenal dengan the Brundtland Report) yang diserahkan ke lembaga PBB pada tahun 1987 (Mowforth dan Munt 1998). Pembangunan berkelanjutan merupakan suatu proses pembangunan yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan sekarang dan selanjutnya diwariskan kepada generasi mendatang. Singkat kata, dengan pembangunan berkelanjutan generasi sekarang dan generasi yang akan datang mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk menikmati alam beserta isinya. Sedangkan pariwisata berkelanjutan sendiri adalah sebuah proses dan sistem pembangunan pariwisata yang dapat menjamin keberlangsungan atau keberadaan sumber daya alam, kehidupan sosial-budaya dan ekonomi hingga generasi yang akan datang. Intinya, pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata yang dapat memberikan manfaat jangka panjang kepada perekonomian lokal tanpa merusak lingkungan.

Salah satu mekanisme dari pariwisata berkelanjutan adalah ekowisata yang merupakan perpaduan antara konservasi dan pariwisata, yaitu pendapatan yang diperoleh dari pariwisata seharusnya dikembalikan untuk kawasan yang perlu dilindungi untuk pelestarian dan peningkatan kondisi social ekonomi masyarakat di sekitarnya. Ekowisata menurut International Ecotourism Society adalah perjalanan yang bertanggung jawab ke tempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Munculnya istilah responsible tourism atau pariwisata yang bertanggung jawab seakan ingin melengkapi konsep-konsep terdahulu. Definisi pariwisata berkelanjutan menurut sebagian orang agak sulit dipahami maksud dan operasionalisasinya secara langsung, sedangkan definisi ekowisata cenderung mengarah hanya kepada wisata berbasis alam terutama kawasan yang dilindungi seperti taman nasional dan cagar alam. Tujuan yang ingin dicapai oleh responsible tourism sesungguhnya sama dengan kedua konsep sebelumnya yaitu pariwisata yang berusaha meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat. Tetapi responsible tourism lebih menekankan pilihan yang diambil oleh konsumen dalam menentukan tujuan wisata, akomodasi, model transportasi dan cara melakukan perjalanan, misalnya memilih mengatur sendiri perjalanannya dibandingkan mengikuti kelompok tur. Responsible tourism juga menekankan kesadaran wisatawan itu sendiri untuk meminimalkan dampak-dampak negatif dari kunjungannya ke suatu tempat.

Sebuah situs di Inggris juga ikut mempopulerkan responsible tourism. Situs ini memuat beragam pilihan akomodasi dan paket liburan di berbagai negara dengan beragam tema, seperti melihat satwa liar, menikmati alam di sebuah kawasan lindung, tinggal di akomodasi yang berwawasan lingkungan, dan bahkan menjadi volunteer atau sukarelawan di berbagai tempat yang membutuhkan bantuan. Organisasi responsible tourism menyeleksi berbagai tujuan wisata, operator perjalanan wisata (tour operator), akomodasi, bahkan pemandu wisata yang dapat dipasarkan lewat situs mereka dengan kriteria-kriteria tertentu.

Jaringan Ekowisata Desa (JED)

Mengkaitkan antara organizational innovation dengan responsible tourism yang dimana responsible tourism merupakan hasil evolusi dan pengembangan dari konsep-konsep terdahulu, seperti sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan) dan ecotourism (ekowisata). Jadi di Bali ada sebuah organisasi yang menjembatani sebuah desa dalam mengembangan pariwisata yang bernama Jaringan Ekowisata Desa. Jaringan Ekowisata Desa ini terbentuk karena berawal dari rasa iri terhadap gemerlap pariwisata yang lebih banyak ada di Bali selatan seperti Badung, Denpasar, dan Gianyar. Desa-desa di pinggiran Bali, termasuk Tenganan, Pelaga, Sibetan, dan Nusa Ceningan hanya mendapat rempah atau bahkan tidak mendapatkan keuntungan dari pariwisata tersebut. Bahkan, bisa dikatakan mereka tersingkirkan oleh pariwisata itu sendiri. Jadi oleh karena itu terbentuklah sebuah Jaringan Ekowisata Desa (JED) yang terdidri dari empat desa, untuk menggali potensi yang ada yang dimana JED mempunyai konsep ”mengawinkan pariwisata dengan pertanian”, seperti halnya Desa Tenganan memiliki padi, Desa Sibetan memiliki Salak, Desa Plaga memiliki kopi, dan di Nusa Ceningan memiliki rumput laut. Jadi dengan semua potensi tersebut keempat desa itu mengembangkan ekowisata dalam memberi nilai tambah dalam pertaniannya dan dengan adanya JED tersebut digunakan konsep “total tourism experience” dalam menyajikan produk ekowisata di keempat desa tersebut, yaitu:

  1. Unik, yaitu memberikan pembeda dari atraksi yang lain (Mass Tourism)
  2. Autentik, yaitu atraksi yang dibut tidak di buat-buat, dan
  3. Holistik, yaitu memberikan atau menyajikan atraksi secara utuh.

Ketiga variabel tersebut adalah langkah dalam memberikan value for money kepada wisatawan. Jaringan Ekowisata Desa (JED) melakukan kerjasama dengan Yayasan Wisnu dan Perusahaan Accor untuk memberikan sebuah pelatihan mapping kepada masyarakat lokal di keempat desa tersebut yang bertujuaan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat lokal dalam mengetahui dan menemukenali potensi di masing-masing wilayah, yang nantinya agar masyarakat mampu mengembangkan potensi yang ada. Selain itu bentuk dari social responsible tourism oleh JED yang bekerjasama dengan Perusahaan Accor melakukan sebuah pelatihan tentang memandu wisatawan dalam menyajikan produk ekowisata tersebut yang menggunakan konsep total tourism experience, dan juga diberikan pelatihan memasak makanan khas masing-masing daerah yang nantinya dapat dijadikan sebuah makanan khas yang disajikan kepada wisatawan, dan masyarakat juga diberikan pelatihan dalam pelayanan akomodasi seperti home stay. Jadi dengan adanya Jaringan Ekowisata Desa ini masyarakat diharapkan mampu memberikan nilai tambah dengan adanya penyelenggaraan ekowisata ini, dan memberikan asumsi kepada masyarakat untuk mengembangkan desa, “bahwa masyarakat tidak harus keluar daerah untuk mencari pekerjaan, karena di desa masyarakat bisa mendapatkan pekerjaan”. Jadi disini letak inovasi pada organisasi JED ini yang dimana mampu menjembatani sebuah desa dalam mengembangkan ekowisata desa, dan disini juga terletak nilai entrepreneur yang dimana dengan adanya JED ini masyarakat diajarkan untuk mengembangkan desa, yang nantinya secara tidak langsung akan tercipta entrepreneur-entrepreneur dalam pengembangan ekowisata desa tersebut, sehingga dengan adanya JED ini maka akan membantu pemerintah dalam pengembangan suatu daerah dalam mengoptimalkan potensinya dan membantu masyarakat lokal dalam memberikan wawasan tentang entrepreneur yang nantinya dapat di aplikasikan di masing-masing desa.

Kesimpulan

Organisasi kepariwisataan adalah suatu badan yang langsung bertanggung jawab terhadap perumusan dan pelaksana kebijakan kepariwisataan dalam ruang lingkup nasional maupun internasional , yang secara langsung melakukan pengawasan dan memberi arahan dalam pengembangan kepariwisataan. Dalam dunia pariwisata ada tiga faktor yang menentukan berhasilnya pengembangan pariwisata sebagai suatu industri. Ketiga faktor tersebut adalah : Tersedianya atraksi, accessibility dan amenities. Dalam Organisasi Pariwisata International maupun Nusantara harus menjalankan social responsible tourism ini atau mengarah pada wisata alam yang ramah lingkungan dan sustainable tourism. Tujuan yang ingin dicapai oleh responsible tourism yaitu pariwisata yang berusaha meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat.

Oleh Mahasiswa DPW S/4 Angkatan 2015/2016 

DAFTAR PUSTAKA

Mowfort, M dan Munt, I (1998) Tourism and Sustainability: New Tourism in the Third World. Routledge, London

http://gigikelincimelux.blogspot.co.id/2015/03/organisasi-kepariwisataan.html diakses pada 29 April 2016 (online)

http://io.ppijepang.org/old/article.php?id=285 diakses pada 1 mei 2016 (online)

www.responsibletravel.com diakses pada 1 mei 2016 (online)

www.eveil-tourisme-responsable.org diakses pada 1 mei 2016 (online)

www.visitbritain.com diakses pada 1 mei 2016 (online)

http://www.agriculturesnetwork.org/magazines/indonesia/25-memberdayakan-petani-dengan-leisa/ekowisata-mengawink diakses pada 6 Mei 2016 (online)

 

 

 

 


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *