Home » Education » Pengaruh Ekonomi, Sosial, Politik terhadap Pariwisata

Pengaruh Ekonomi, Sosial, Politik terhadap Pariwisata

Pariwisata dalam beberapa dekade terakhir ini disebut-sebut telah menjadi aktifitas sosial ekonomi yang dominanan dan dikatakan sebagai industri terbesar yang menyangkut pergerakan barang, jasa serta manusia yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Aktifitas pariwisata modern yang samakin lama semakakin dinamis dengan munculnya berbagai motivasi sebuah perjalanan yang dulunya hanya dilakukan oleh kalangan pedagang, kaum pelajar kini telah menjadi sebuah hak yang dimiliki oleh setiap orang.

Sejak berakhirnya perang dunia ke-2 tepatnya di tahun 1978, UNWTO (World Tourism Organization) mencatat adanya peningkatan kunjungan yang sangat signifikan terjadi pada negara-negara Asia Pasifik dan Asean (Review”Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan Prospeknya). Tidak dapat dipungkiri aktifitas kepariwisataan merupakan salah satu penghasil devisa negara terbesar setelah migas, namun disisi lain, tidak sedikit pula dampak negatif yang berpotensi menjadi “boomerang” kepada negara yang dikunjungi tersebut. Pada pembahasan berikutnya, akan dipaparkan secara singkat bagaimana keterkaitan antar lima elemen yang mempengaruhi sebuah aktifitas pariwisata yaitu ekonomi, sosial, budaya, politik, dan teknologi sebagai motivasi yang merangsang sebuah perjalanan dan aktifitas pariwisata dengan potensi pengaruhnya terhadap ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, politik di suatu negara tujuan (host).

Pengaruh Ekonomi Terhadap Pariwisata

Kekuatan ekonomi disuatu negara merupakan dasar stimulus dari sebuah perjalanan wisata yang dilakukan oleh penduduk di suatu negara untuk melakukan sebuah perjalanan keluar negara dengan mengeluarkan biaya dan merelakannya masuk sebagai pendapatan negara yang dikunjungi. Seperti halnya negara China dimana ekonominya telah menjelma menjadi salah satu ekonomi terkuat di dunia telah merangsang masyarakatnya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir untuk mengunjungi negara lain dalam bentuk aktifitas berwisata. Hampir semua literature dan kajian studi lapangan menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata pada suatu daerah mampu memberikan dampak-dampak yang dinilai positif, yaitu peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan penerimaan devisa, peningkatan kesempatan kerja dan peluang usaha, peningkatan pendapatan pemerintah dari pajak dan keuntungan badan usaha milik pemerintah, dan sebagainya.

Disisi lain, dengan aktifitas kepariwisataan yang menghasilkan dampak ekonomi yang positif, terjadi pula dampak negatif yang tidak diharapkan seperti kesenjangan pendapatan antarkelompok masyarakat, hilangnya kontrol masyarakat lokal terhadap sumberdaya ekonomi, munculnya neo-kolonialisme yang tidak memihak pada perekonomian masyarakat kecil. Selain hal tersebut, beberapa peneliti berpendapat bahwa ajang aktifitas kepariwisataan telah dijadikan sebagai sarana untuk menjajah negara daerah tujuan wisata tersebut melalui eksploitasi penjualan berbagai fasilitas yang ditawarkan baik dalam bentuk barang dan jasa. Sehingga melalui aktifitas pariwisata disuatu negara selain mengejar pendapatan yang masuk kekas negara diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata demi tujuan kesejahtraan dengan wujud penguatan perekonomian nasional.

Pengaruh Elemen Sosial Terhadap Pariwisata

Dalam bahasan mengenai pengaruh sosial pariwisata, perlu digaris bawahi bahwa secara teoritikal dampak sosial dan dampak kebudayaan dapat dibedakan namun seperti yang dikutip dalam Mathieson and Wall (1982:37) menyebutkan bahwa “there is no clear distinction between social and cultural phenomena”, sehingga sebagian besar ahli menggabungkan dampak sosial dan dampak budaya di dalam pariwisata ke dalam judul ‘dampak sosial budaya’ (The sosiocultural impact of tourism in a broad context).

Studi tentang dampak sosial budaya pariwisata selama ini lebih cenderung mengasumsikan bahwa akan terjadi perubahan sosial-budaya akibat kedatangan wisatawan, dengan tiga asumsi yang umum, yaitu: (Martin, 1998:171):

  1. perubahan dibawa sebagai akibat adanya intrusi dari luar, umumnya dari sistem sosial-budaya yang superordinat terhadap budaya penerima yang lebih lemah;
  2. perubahan tersebut umumnya destruktif bagi budaya indigenous;
  3. perubahan tersebut akan membawa pada homogenisasi budaya, dimana identitas etnik lokal akan tenggelam dalam bayangan sistem industri dengan teknologi barat, birokrasi nasional dan multinasional, a consumer-oriented economy, dan jet-age lifestyles.

Sebagai tuan rumah, negara daerah tujuan pariwisata harus memiliki benteng tersendiri untuk menjaga kearifan lokal dari pengaruh imperialisme negara barat yang dominan menjadi wisatawan. Karakteristik bangsa dengan berbagai tradisi adat-istiadat masyarakatnya harus tetap di jadikan roh untuk setiap aktifitas, atau atraksi pariwisata yang dilaksanakan, sehingga negara tuan rumah tidak kehilangan karakteristik bangsa dikarenakan datangnya pegaruh sosial-budaya wisatawan yang datang.

Pengaruh Budaya Terhadap Pariwisata

Dalam memutuskan sebuah perjalanan wisata, setiap individu memiliki alasan atau motivasi tersendiri untuk melakukannya. Beberapa karakteristik wisatawan Eropa misalnya cenderung datang kesuatu kawasan wisata selain untuk menikmati pemandangan, kecenderungannya lebih pada untuk mengenal budaya asing yang ada didearah tersebut. Disisi lain, masuknya budaya wisatawan yang datang kesuatu daerah wisata membawa dampak negatif pula kepada masyarakat sekitarnya. Pariwisata selalu mempertemukan dua atau lebih kebudayaan yang berbeda, yang mempunyai perbedaan dalam norma, nilai, kepercayaan, kebiasaan dan sebagainya. Pertemuan manusia atau masyarakat dengan latar belakang sosial-budaya yang berbeda akan menghasilkan berbagai proses akulturasi, dominasi, asimilasi, adopsi, adaptasi, dalam kaitan hubungan antar budaya.

Pengaruh pariwisata terhadap masyarakat daerah sebenarnya bersifat paradoks. Pada satu pihak, pariwisata dapat menggairahkan perkembangan kebudayaan asli, bahkan dapat juga menghidupkan kembali unsur kebudayaan yang hampir dilupakan. Pada lain pihak, pariwisata tadi mengubah motivasi berbagai unsur kebudayaan, seperti ritual yang tadinya dipersembahkan karena motivasi tradisi, menjadi motivasi yang bersifat komersil.

Pengaruh Politik Terhadap Pariwisata

Keterbukaan, demokrasi, liberalisme serta hubungan diplomatik yang dimiliki oleh setiap negara dalam menjalankan politik luar negeri untuk kepentimgan negara tersebut ataupun kepentingan bersama membawa andil besar dalam sebuah aktifitas perjalanan. Kerja sama luar negeri yang dilakukan oleh masing-masing negara seperti Kerjasama Bilateral yang dilakukan oleh dua negara, Multilateral antar beberapa negara, dimana yang tergabung dalam kerjasama itu saling membantu di bidang ekonomii, misalnya ASEAN, Kerjasama Regional yaitu negara-negara kawasan/daerah tertentu yang bertujuan menjamin ekonomi negara-negara satu kawasan, Kerjasama Antar Regional yang satu dengan regional lainnya yang bertujuan untuk menjamin kepentingan ekonomi antara dua kawasan, misalnya ASEAN dan MEE dan Kerjasama Internasional yang mencakup banyak negara dan bernaung di bawah satu bendera PBB. Kerjasama ini bertujuan saling membantu dibidang ekonomi untuk meningkatkan kesejahtraan bersama. Misalnya IMF, WTO, UNWTO, dan lain-lain.

Melalui politik luar negeri bebas aktif yang dianut oleh Indonesia, beberapa konfrensi Internasional telah memilih Indonesia sebagai tuan rumah dalam penyelenggaraannya. Penyelenggaraan konfrensi tersebut sering disebut dengan istilah MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition). Bali sebagai daerah yang sering ditunjuk sebagai tuan rumah konfrensi internasional tersebut secara nyata membawa dampak yang postif terhadap ekonomi masyarakat sekitar. Dengan pelengkapan sarana dan prasarana konfrensi yang mendorong laju ekonomi bukan hanya dari kelengkapan fasilitas akomodasi yang berskala besar, penyelenggaraan konfrensi ini juga mendorong tumbuhnya ekonomi masyarakat. Namun disamping dampak positif yang dihasilkan, para ahli lingkungan mengkritisi kebijakan-kebijakan penyelenggaraan konfrensi yang berskala internasional seperti ini. Dengan banyaknya sarana dan prasarana yang harus disiapkan untuk menunjang seperti bahan bakar pesawat yang digunakan oleh kontingan dari puluhan negara yang berjumlah ribuan, sumber daya yang harus dikeluarkan oleh daerah untuk menunjang konfrensi tersebut dikhawatirkan akan menyebabkan dampak negatif pada lingkungan daerah tuan rumah aktifitas semacam ini.

Pengaruh Teknologi Terhadap Pariwisata

Kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi pada zaman sekarang ini tidak dapat dipungkiri sangat membantu aktifitas manusia. Terlebih dengan aktifitas manusia yang semakin dinamis yang harus ditunjang dengan berbagai sumber daya yang ada. Dalam konteks kepariwisataan, pengaruh teknologi sangat erat kaitannya terhadap sebuah perjalanan. Melalui alat transportasi yang memudahkan manusia untuk berpindah tempat dari suatu pulau ke pulau lain, dari satu negara ke negara lain baik melalui jalur darat seperti bus, kereta api, jalur laut melalui kapal pesiar ataupun melalui udara dengan pesawat komersial.

Selain pada sektor transportasi, perkembangan teknologi yang didominasi oleh negara barat cenderung mengakibatkan monopoli perdagangan barang/fasilitas pariwisata oleh negara maju terhadap negara-negara berkembang yang menyelenggarakan aktifitas pariwisata seperti jaringan sistem yang diperlukan oleh hotel dalam operasionalnya harus diimpor dari luar negeri. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa aktifitas pariwisata dapat pula menjadi sebuah lahan/wadah untuk memperluas dan memonopoli jaringan produk internasional suatu bangsa dan mengakibatkan negara tuan rumah dijajah secara idiologi.

Dari penjelasan diatas berupa keterkaitan antara lima elemen (ekonomi, sosial, budaya, politik, teknologi) yang mempengaruhi aktifitas perjalanan dan pariwisata serta dampak positif dan negatif yang ditimbulkan. Pariwisata memiliki andil yang besar sebagai wadah mesin pertumbuhan ekonomi di suatu negara, alkulturasi yang bertujuan untuk saling memahami budaya masing-masing, serta ajang untuk mempererat rasa persahabatan oleh setiap negara baik melalui ajang kegiatan resmi atau hanya sekedar aktifitas berwisata. Namun, disisi lain, perkembangan laju aktifitas pariwisata yang berdampak manis harus tetap dilakukan fungsi kontrol untuk mengurangi pengaruh budaya asing yang dapat secara perlahan mehancurkan nilai-nilai budaya masyarakat sebagai tuan rumah dan pemerataan ekonomi yang diharapkan dapat meguatkan perekonomian masyarakat selain hanya mengejar pendapatan nasiolan dari sektor pariwisata.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *